Sebuah catatan tentang perasaan dalam menjalani hidup yang sering kali berliku tanpa arah yang tentu. Sebuah catatan tentang segala hal-ikhwal yang terjadi dalam hidup yang kadang terang kadang redup.
Jumat, 28 Maret 2014
Kamis, 06 Februari 2014
Aku Yang Sendiri
Aku menangis untuk menghibur diri
Aku bersorak untuk menertawakan diri
Aku bercanda untuk menenangkan diri
Aku bersujud untuk merenungkan diri
Aku melintasi samudra pekat,
Pada siapa aku harus mengadu ?
Pada siapa aku harus kecewa ?
Pada siapa aku harus bahagia ?
Apakah pada debu yang berterbangan?
Apakah pada nyanyian rintik hjan?
Apakah pada awal kuncup mekar?
Apakah pada akhir pengorbanan?
Aku harus menaklukkan hari-hari sendiri yang menjadi lawan tangguhku
Aku harus mengalahkan malam-malam sepi yang menjadi musuh besarku
Selamat Pagi, Sepi
Selamat Siang, Sunyi
Selamat Malam, Sepi, Sunyi, Sendiri.
Aku bersorak untuk menertawakan diri
Aku bercanda untuk menenangkan diri
Aku bersujud untuk merenungkan diri
Aku melintasi samudra pekat,
Pada siapa aku harus mengadu ?
Pada siapa aku harus kecewa ?
Pada siapa aku harus bahagia ?
Apakah pada debu yang berterbangan?
Apakah pada nyanyian rintik hjan?
Apakah pada awal kuncup mekar?
Apakah pada akhir pengorbanan?
Aku harus menaklukkan hari-hari sendiri yang menjadi lawan tangguhku
Aku harus mengalahkan malam-malam sepi yang menjadi musuh besarku
Selamat Pagi, Sepi
Selamat Siang, Sunyi
Selamat Malam, Sepi, Sunyi, Sendiri.
Selasa, 04 Februari 2014
Wahai
Wahai...
Sekalipun aku tiada kau anggap, tak mengapa.
Lihatlah,
Akan kubuktikan bahwa suksesku adalah pilihan hidupku.
Wahai...
Memang aku harus berteman sepi dan debu terlebih dahulu..
Tapi lihatlah, akan ku ukir masa depanku, walau tanpamu.
Sekalipun aku tiada kau anggap, tak mengapa.
Lihatlah,
Akan kubuktikan bahwa suksesku adalah pilihan hidupku.
Wahai...
Memang aku harus berteman sepi dan debu terlebih dahulu..
Tapi lihatlah, akan ku ukir masa depanku, walau tanpamu.
Senin, 25 November 2013
SEBOTOL AIR
Sebotol Air ini menjadi saksi atas dahagaku terhadapMu,
Sebotol Air ini menjadi saksi atas betapa rinduku padaMu,
Sebotol Air ini yang mengantarkanku menuju cintaMu,
Sebotol Air ini yang menghanyutkan kasihku bermuara keharibaanMu
Sebotol Air, ya benar, Sebotol Air.
Iya, benar. Sebotol Air. Tak usah Kalian bertanya lagi,
Sebotol Air ini mampu menjawab kebimbanganku.
Sebotol Air ini yang mampu membersihkan dosa-dosaku.
Dengan Sebotol Air ini, kubasuh kotoran-kotoranku.
Dengan Sebotol Air ini aku berwudhu, lalu aku menghadapMu.
Sebotol Air ini menjadi saksi atas dahagaku terhadapMu,
Sebotol Air.
Di Rumah Kontrakan, 2 Nopember 2013
Rabu, 06 November 2013
WANITA IDAMAN
Istriku, wanita yang kunikahi, bukanlah dewi.
Ia hanya seorang hamba biasa berhati peri.
Istriku, wanita yang kunikahi, bukanlah bidadari.
Ia hanya seorang wanita yang kecantikannya hanya untukku sendiri.
Istriku, wanita yang kunikahi, ku tak tahu dari mana asalnya,
‘Ku hanya yakin bahwa ia berasal dari tulang rusukku yang hilang.
Istriku, wanita yang kunikahi, ku tak tahu dimana alamatnya,
‘Ku hanya yakin bahwa hanya kepadanya aku berkeluh kesah, kembali pulang.
Istriku, wanita yang kunikahi, ku tak tahu apa kerjanya,
‘Ku hanya yakin bahwa hanya ia yang mampu merawat anak-anakku penuh kasih sayang.
Istriku, wanita yang kunikahi,
Dalam tiap hembusan nafasnya, terselip do’a untukku
Dalam tiap untaian katanya, tertiup angin surga di telingaku
Dalam tiap sentuhan tangannya, terasa belaian ibu semasa kecilku dulu
Istriku, wanita yang kunikahi,
Aku mencintaimu.....
Di rumah kontrakan, 3 Nopember 2013
Senin, 04 November 2013
BADAN TIADA BERTUAN
Lidah menjulur syukur,
Namun badan membujur kufur.
Lidah mengecap nikmat,
Namun raga masih tersesat.
Tiada henti Tuhan mengirim
nikmat,
Namun masih saja raga ini
memburu maksiat.
Ragaku masih terlalu egois
manjanya,
memanjakan keduniaannya,
Badanku serasa tiada bertuan,
menurutkan nafsu setan.
Tuhan,
Hatiku mengetuk pintuMu,
Sadar
akan segala dosaku,
Sisakan ampunanMu,
Di ujung
kerongkongan dan ubun-ubunku.
Amin.
Di Sudut Kamar Usang, 15 Maret 2012
Minggu, 18 Agustus 2013
Setelah 68 Tahun Merdeka
Setelah 68 tahun Indonesia merdeka,
Semoga akal kita tidak lupa akan sejarah perebutan kemerdekaannya,
semoga otak kita tidak luput untuk merekam perjuangan para pahlawan.
Semoga jiwa kita tidak melupakan pancasila
Semoga mulut kita tidak (lagi) salah membaca urut 5 silannya.
Semoga para pejabat dan pemimpin kita tidak lupa akan UUD 1945.
Semoga para pesiar, pelaut dan para TKI, tidak lupa,
bahwa mereka masih punya Tanah Air : Indonesia
Setelah 68 tahun merdeka:
Merdekan diri dahulu dari segala bisik nafsu dan angkara murka,
Merdekakan diri dahulu dari segala sifat iri dengki, hasut, tamak dan serakah.
Merdekakan diri dahulu untuk rela interopeksi diri tanpa harus selalu koreksi "tetangga" sebelah.
Kita tak akan sepenuhnya merdeka jika hanya terus saling melempar salah.
Merdeka hanya untuk kita yang mampu (terus) memberi tanpa mengharap untuk menerima.
Setelah 68 tahun merdeka,
Jika mental pemimpin pejabat dan negarawan tetap tak terbaiki,
maka 4 atau 5 tahun lagi, negara kita, Indonesia,
akan juara pertama olimpiade dunia, OLIMPIADE KORUPSI
Setelah 68 tahun merdeka,
semoga kita bisa merubah apa yang belum dijamah dan dirubah, untuk menjadi lebih indah.
MERDEKA..!!
Depan TV, menonton berita nasional,
17 Agustus 2013, 11:30
Selasa, 04 Juni 2013
Emakku Sayang, Aku Sayang Emak
Emak.,
Maafkan anakmu ini.,
sedari hidup hingga engkau
tinggalkan kami, tak sempat bahagiakanmu di masa tuamu.,
takdir memang terlalu kejam.,
memisahkan anak-anakmu dengan engkau yang kami cintai.,
sungguh kami tak sanggup
menahan air mata yang terurai hingga menganak sungai.
Emak.,
Kepergianmu sungguh
menyesakkan dada kami.,
Seolah kami tak lagi berarti,
dan sungguh kami merasa menjadi anak durhaka.,
Yang tak menemanimu
disaat-saat terakhirmu.
Waktu memang terlalu kejam.,
hingga di perjalanan akhirmu., sepersekian detik saja,, tak biarkan anak-anakmu
menemanimu saat menutup mata di tutup usia.
Emak.,
Maafkan kami., anak-anakmu.,
yang terlalu egois dengan kehidupan kami.,
Maafkan kami., anak-anakmu
yang terlalu tak mengindahkanmu.,
Maafkan kami, anak-anakmu yang
terlalu membiarkanmu menikmati hari-hari terkahirmu
Maafkan kami, anak-anakmu yang
terlalu sering meninggalkanmu.
Maafkan kami, anak-anakmu
tercinta.
Emak.,
Aku tahu., sungguh begitu
besar cintamu pada anak-anakmu,
Aku tahu., sungguh begitu
besar cintamu pada suamimu, ayah dari anak-anakmu.
Aku tahu., sungguh begitu
besar cintamu pada keluargamu., tempat kamu bernaung.
Dan sungguh aku tahu, tak kan
pernah bermaksud engkau tinggalkan kami.
Tapi takdir terlalu kejam,
terlalu cepat pisahkan engkau dengan kami.
Emak.,
Anak-anakmu sungguh
mencintaimu.,
Andai waktu dapat diputar,,
tak kan sedetik pun kami berpaling darimu di saat-saat terakhirmu,
Andai waktu dapat diputar, tak
kan sejengkalpun kami menjauh darimu.,
Andai waktu dapat diputar, tak
kan kami berpencar meninggalkanmu.
Andai waktu dapat diputar, aku
lebih memilih untuk selalu bersamamu, emak.
Emak.
Allah telah menentukan jalan
untukmu., juga untuk kami.
Allah telah menggariskan apa
yang terbaik bagi emak dan juga bagi kami.
Anak-anakmu hanya mampu
berdo’a untukmu, agar kau tenang disana, di alam yang berbeda.
Sungguh anak-anakmu ikhlas
melepasmu,
Tapi gejolak rasa bersalah
masih saja bergelayut dan meledak-ledak di dada kami,
Namun kami yakin, engkau
tersenyum disana, melihat kami berkumpul melepasmu.
Emak,
Inilah jalan yang dibentangkan
Allah untuk keluarga kita,
Engkau pergi saat anak-anakmu
sudah dewasa, sudah berkeluarga,
Insyaallah kebahagiaanmu sudah
sempurna dengan melihat kami berumahtangga,
Kini, kami hanya mampu mengantarmu
dengan dzikir dan do’a,
Semoga engkau selalu tenang
disana, dan mendapat surga Allah sebagai tempat terindah,
Dan kami, anak-anak
tercintamu, akan senantiasa berdo’a untuk melapangkan jalanmu,
Karena kami tahu, sungguh
tiada mampu kami memberikan sesuatu,
Selain dari do’a anak-anak
sholeh-sholehamu.
Di Sudut Kamar Usang,
Sehari Setelah Berpulangnya Emak Tercinta,
20 Juli 2012
Sehari Setelah Berpulangnya Emak Tercinta,
20 Juli 2012
Langganan:
Postingan (Atom)