Selasa, 06 Oktober 2015

Sebilah Pisau

Jika hanya sebilah pisau yang kau miliki dalam perang,
Apakah engkau akan menyerah
kepada musuhmu yang berpedang?,
Bagiku TIDAK!
Karena, menyerah pun sama artinya dengan kematian. 

Ya, bagiku, TIDAK untuk menyerah.
karena menyerah, artinya dengan mengantar kematian.
maka ayunkan sebilah pisau itu
sekenanya,
sesampainya,
karena hanya itu senjata yang tersisa.
lalu, serahkan semua kepada Allah.
jika menang, itu karena keberanianmu dan karuniaNya,
jika kalah, itu karena keterbatasanmu dan kejamnya dunia.


Dalam Ruang Perenungan Kerja, 6 Oktober 2015

Rabu, 14 Mei 2014

Menyusuri Jalan

Pagi itu aku berjalan sendiri,
Berjalan sendiri menyusuri jalan yang membentang
Membentang panjang,
Ya, membentang panjang.

Dan....
Saat nadiku bergetar menyusuri jalan,
Darahku berdesir mengalir,
Lalu kucium wangi klorofil di pinggir jalan itu,
Dan...
Ternyata mereka sedang berfotosintesis,
Dan disudut lain kulihat mereka yang sedang bermetamorfosis

Lalu bayang-bayang mereka menjadi kian nyata bagiku.

Jumat, 28 Maret 2014

PERCAYA AKAN CAHAYA



Jangan beramai-ramai mengeluh kepada gelap, tiada itu berguna,



Maka bersegeralah menyalakan lilin sebagai penerang.



Percayalah,



Bahwa disetiap ujung lorong kegelapan,



Pasti ada setitik cahaya yang menanti,



Itu janji Tuhan, bagi hambaNya yang beriman.



Dan sungguh ingatlah,



Kembali, jangan sekali-kali engkau mengeluh atas gelap,



Bersegeralah nyalakan penerang jalanmu.

Kamis, 06 Februari 2014

Aku Yang Sendiri

Aku menangis untuk menghibur diri
Aku bersorak untuk menertawakan diri
Aku bercanda untuk menenangkan diri
Aku bersujud untuk merenungkan diri
Aku melintasi samudra pekat,


Pada siapa aku harus mengadu ?
Pada siapa aku harus kecewa ?
Pada siapa aku harus bahagia ?
 

Apakah pada debu yang berterbangan?
Apakah pada nyanyian rintik hjan?
Apakah pada awal kuncup mekar?
Apakah pada akhir pengorbanan?


Aku harus  menaklukkan hari-hari sendiri yang menjadi lawan tangguhku
Aku harus mengalahkan malam-malam sepi yang menjadi musuh besarku


Selamat Pagi, Sepi 
Selamat Siang, Sunyi
Selamat Malam, Sepi, Sunyi, Sendiri. 

Selasa, 04 Februari 2014

Wahai

Wahai...
Sekalipun aku tiada kau anggap, tak mengapa.
Lihatlah,
Akan kubuktikan bahwa suksesku adalah pilihan hidupku.
Wahai...
Memang aku harus berteman sepi dan debu terlebih dahulu..
Tapi lihatlah, akan ku ukir masa depanku, walau tanpamu.

Senin, 25 November 2013

SEBOTOL AIR




Sebotol Air ini menjadi saksi atas dahagaku terhadapMu,



Sebotol Air ini menjadi saksi atas betapa rinduku padaMu,



Sebotol Air ini yang mengantarkanku menuju cintaMu,



Sebotol Air ini yang menghanyutkan kasihku bermuara keharibaanMu



Sebotol Air, ya benar, Sebotol Air.



Iya, benar. Sebotol Air. Tak usah Kalian bertanya lagi,



Sebotol Air ini mampu menjawab kebimbanganku.



Sebotol Air ini yang mampu membersihkan dosa-dosaku.



Dengan Sebotol Air ini, kubasuh kotoran-kotoranku.



Dengan Sebotol Air ini aku berwudhu, lalu aku menghadapMu.



Sebotol Air ini menjadi saksi atas dahagaku terhadapMu,



Sebotol Air.


 
Di Rumah Kontrakan, 2 Nopember 2013

Rabu, 06 November 2013

WANITA IDAMAN

Istriku, wanita yang kunikahi, bukanlah dewi.

Ia hanya seorang hamba biasa berhati peri.

Istriku, wanita yang kunikahi, bukanlah bidadari.

Ia hanya seorang wanita yang kecantikannya hanya untukku sendiri.

Istriku, wanita yang kunikahi, ku tak tahu dari mana asalnya,

‘Ku hanya yakin bahwa ia berasal dari tulang rusukku yang hilang.

Istriku, wanita yang kunikahi, ku tak tahu dimana alamatnya,

‘Ku hanya yakin bahwa hanya  kepadanya aku berkeluh kesah, kembali pulang.

Istriku, wanita yang kunikahi, ku tak tahu apa kerjanya,

‘Ku hanya yakin bahwa hanya  ia yang mampu merawat anak-anakku penuh kasih sayang.

Istriku, wanita yang kunikahi,

Dalam tiap hembusan nafasnya, terselip do’a untukku

Dalam tiap untaian katanya, tertiup angin surga di telingaku

Dalam tiap sentuhan tangannya, terasa belaian ibu semasa kecilku dulu

Istriku, wanita yang kunikahi,

Aku mencintaimu.....

 

 Di rumah kontrakan, 3 Nopember 2013

Senin, 04 November 2013

BADAN TIADA BERTUAN


 Lidah menjulur syukur,
Namun badan membujur kufur.
Lidah mengecap nikmat,
Namun raga masih tersesat.
Tiada henti Tuhan mengirim nikmat,
Namun masih saja raga ini memburu maksiat.
Ragaku masih terlalu egois manjanya, 
memanjakan keduniaannya,
Badanku serasa tiada bertuan,
menurutkan nafsu setan.
Tuhan,
Hatiku mengetuk pintuMu, 
Sadar akan segala dosaku,
Sisakan ampunanMu,
Di ujung kerongkongan dan ubun-ubunku.
Amin.
 

Di Sudut Kamar Usang, 15 Maret 2012